Menurut risalah ‘’Dagadu Djokdja: Perjalanan Empat Tahun’’ disebutkan bahwa nama Dagadu Djokdja digunakan sebagai merek dagang sekaligus nama produsennya. Dagadu dalam bahasa walikan (slank) anak muda Yogyakarta berarti ‘’matamu’’. Filosofi idealnya dalam wacana rancang grafis ikon mata adalah idiom yang berkait erat dengan citra kreativitas. Dagadu Djokdja yang dipresentasikan melalui logo berbentuk dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap kegiatannya. (Dagadu Djokdja l997: 1-2)
Keunikan sekaligus kekuatan dari produk ini pertama ia selalu memberi bingkai estetika pada hal-hal yang bersifat keseharian selalu menekankan kesederhanaan bahkan remeh temeh (sangat biasa fenomena keseharian) yang terkadang sudah dilupakan orang. Untuk tetap mengedepankan hal tersebut maka departemen desain mengambil kendali dengan mengandalkan aspek desain grafis sebagai senjata pamungkas guna mengangkat dan mengungkap tema yang telah disepakati bersama.
Kedua karena desain grafis maupun desain produk merupakan aspek yang sangat diutamakan maka pengadaan desain secara konsisten dan berkesinambungan amatlah penting. Uniknya penciptaan desain untuk produk-produk Dagadu tidak dipandang sebagai ekspresi individual melainkan justru diupayakan muncul dan berkembang sebagai hasil karya kolektif berdasarkan semangat kerja kolektif pula. Kolektivitas ini menyangkut pemunculan gagasan hingga pengembangan rancangan awal atau preliminary create by mental act. Sementara pengembangan rancangan lebih lanjut hingga penyelesaian akhir merupakan tugas para desainer.
Ketiga secara teknis visual senantiasa menekankan aspek desain grafis yang spesifik dengan menggabungkan unsur lokal kedaerahan gratify plesetan yang diramu semangat eksperimen dalam konteks seni dan budaya populer. Strategi semacam itu dilakukan agartercipta unsur attractiveness sebagai titik jual produk.
Kelima karakteristik desain yang sekaligus menjadi ciri khas semua karya Dagadu Djokdja adalah menggunakan pendekatan poster alias bergaya ‘’moster’’. Memilih tipografi dari keluarga sans serif (tidak berkaki) dan biasanya menggunakan jenis huruf Futura. Karakter huruf Bold. Banyak mengunakan warna populer yang disusun dengan teknik blok kontras namun manis. Ilustrasi menggunakan pendekatan idiom estetik dekoratif. Setiap objek visual dari elemen desain grafis selalu didampingi dengan garis kontur bahkan sangat tergantung pada depict. Posisi desain kebanyakan disusun secara vertikal dengan komposisi simetris.
Jika diamati secara komprehensif maka desain kaos oblong Dagadu Djokdja dapat dipilah dalam dua kelompok besar. Kategori pertama desain dengan dominasi huruf dan tipografi sebagai kekuatan teks. Dalam hal ini susunan teks bisa dibaca sebagai sebuah ilustrasi. Kategori kedua desain yang mengedepankan unsur tipografi dan ilustrasi sebagai kekuatan daya ungkap kaos oblong anggitan Dagadu Djokdja.
Kedua kelompok desain tersebut selalu mengedepankan unsur humor parodi plesetan sebagai unique selling preposition dari produk kaos oblong Dagadu Djokdja. Sementara itu parodi menurut The Oxford English Dictionary seperti dikutip Yasraf A. Piliang (l999: 154) didefinisikan sebagai sebuah komposisi dalam prosa atau puisi yang di dalamnya kecenderungan-kecenderungan pemikiran dan ungkapan karakteristik dalam diri seorang pengarang atau kelompok pengarang diimitasi sedemikian rupa untuk membuatnya absurd khususnya dengan melibatkan subjek-subjek lucu dan janggal imitasi dari sebuah karya yang dibuat modelnya kurang lebih mendekati aslinya akan tetapi disimpangkan arahnya sehingga menghasilkan efek-efek kelucuan.
Terkait dengan itu Linda Hutcheon dalam tulisannya berjuluk A Theory of act seperti disitir Yasraf A. Piliang (l999: 155) mengungkapkan parodi sebagai sebuah relasi formal atau struktur antara dua teks. Dijelaskannya sebuah teks baru diciptakan sebagai hasil dari sebuah sindiran plesetan atau unsur lelucon dari bentuk format atau struktur dari teks rujukan. Artinya sebuah teks atau karya parodi biasanya lebih menekankan aspek penyimpangan atau plesetan dari teks atau karya rujukan yang biasanya bersifat serius.
Sedangkan sifat dan metode yang digunakan untuk menghasilkan pelencengan makna dan lelucon tersebut menurut konsep Mikhail Bakhtin (l981:52) dalam risalahnya berjudul The Dialogic Imagination sangat kaya dan beragam. Ditegaskan Bakhtin bahwa parodi adalah suatu bentuk dialogisme tekstual. Artinya dua teks atau lebih bertemu dan berinteraksi antara yang satu dengan lainnya dalam bentuk dialog.
Hornby (l974:799) mengartikan poster sebagai plakat atau tempelan pengumuman yang di pasang di tempat umum. Bisa juga dikatakan sebagai sebuah pemberitahuan untuk khalayak ramai yang berbentuk gambar. Sedangkan unsur yang ditekankan dalam pengertian poster di sini adalah pesan atau pemberitahuan.
Karena poster mengemban tugas untuk menyampaikan pesan verbal maupun visual maka keberadaannya harus dikemas sedemikian rupa agar menarik dan mampu membangkitkan rasa tertarik pribadi sehingga dapat menimbulkan stimulus dan reaksi untuk memberikan keputusan. Untuk itu pesan verbal maupun visual yang ditampilkan dalam desain poster harus dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan benar. Hal ini menjadi penting agar pesan-pesan tersebut mudah dimengerti oleh pembaca tanpa ada kesalahan interpretasi makna dari pesan tersebut.
Sebagai media komunikasi visual maka keberadaan poster menjadi media yang sangat efektif. Artinya poster bisa membawa masyarakat untuk berkomunikasi dengan cara timbal balik selanjutnya mengadakan suatu tindakan atas pengaruh komunikasi tersebut. Hal itu terjadi karena ditunjang oleh unsur-unsur poster yang menjadi faktor terpenting dalam mencapai keberhasilan dari poster tersebut sebagai media komunikasi visual.
Jadi dengan demikian secara umum poster merupakan salah satu media publikasi mengandung tujuan: (1) Memberitahukan suatu keinginan. Seperti: ingin menjual ingin membeli dan ingin mendapatkan sesuatu baik barang ataupun jasa. (2) Mengumumkan sesuatu hal yng dianggap penting agar diketahui oleh masyarakat luas. (3) Mengingatkan masyarakat tentang hal-hal yang penting bagi masyarakat itu sendiri. (4) Memberikan informasi yang positif kepada seluruh lapisan masyarakat dalam waktu yang relatif singkat dan tepat pada sasarannya.
Dalam perkembangannya keberadaan poster bermetamorfosa menjadi sebuah bentuk komunikasi visual yang dirancang sangat simpel. Sederhana dalam konteks desain komunikasi visual menurut Mawardi dan Nizar berarti tidak ruwet jelas atau mungkin yang disederhanakan dalam garis-garis bentuk-bentuk dan warna-warna yang sedikit mungkin. Agar unsur tersebut dapat menggambarkan suatu arti kepada yang melihat dalam sekilas pandang unsur-unsur tersebut jangan sampai hilang dalam suatu liku-liku penggambaran yang tidak mengena dan tidak perlu sehingga terciptanya saling hubungan yang satu dengan yang lainnya (Mawardi dan Nizar l972:3).
Melirik rancangan oblong Dagadu Djokdja pada kategori pertama yakni desain dengan dominasi huruf dan tipografi sebagai kekuatan teks terlihat di antaranya pada tema ‘’Malio-Boro Malio-Boros’’. Desain kaos oblong yang layout dan kemasan visualnya menggunakan pendekatan poster ini ditata dalam posisi vertikal.
Kata Malioboro dan Malioboros dipenggal menjadi dua bagian. Masing-masing berbunyi ‘’Malio-Boro’’ (secara visual menggunakan warna coklat memakai.
Related article:
http://sumbo.wordpress.com/2007/11/10/semiotika-desain-oblong-dagadu-djokdja/
comments | Add comment | Report as Spam
|